Sabtu, 03 Februari 2018
HIJRAH
HIJRAH
Tentunya arti
hijrah sendiri secara umum adalah memutuskan hubungan, dalam Islam artinya
berarti memutuskan atau meninggalkan apa yang dibenci oleh Allah menuju apa
yang dicintaiNya.. buat saya sendiri adalah pindah tempat mengajar…Tulisan
ini berdasarkan pengalaman saya
sepanjang berkarier didunia pendidikan, dimana ketika awal pertama kali
mengajar adalah di jenjang SMA dan setelah diterima menjadi PNS ditempatkan di
SMK, dan saat ini adalah tahun ketiga saya mengajar di Sekolah Menengah Petama.
Ketika pindah dari SMA ke SMK tidak banyak perubahan yang saya alami karena
subyek siswa usianya sama. Sedangkan di SMP subyek siswanya berusia antara 12 –
15 tahun, orang bilang anak usia ABG (Anak Baru Gede). Kenapa saya bisa pindah
ke SMP tentunya karena kebijakan Kurikulum 13 yang mengurangi jam mapel saya,
dari empat jam pelajaran menjadi 2 jam pelajaran, sehingga karena kelebihan
guru, saya dan seorang teman harus rela berkorban demi teman-teman guru yang
lain agar selamat TPP nya ha ha.. Awalnya saya tidak memutuskan untuk hijrah
hanya meminta tambahan jam mengajar saja, tetapi Kepala Sekolah di SMP
memberikan gambaran jika SMA/SMK diambil alih ke provinsi bagaimana dengan
nasib TPPnya. Beliau juga menyambut saya dengan suka cita karena memang
membutuhkan guru bahasa Inggris. Kata beliau waktu itu “Saya sudah lama request
ke dinas untuk meminta tambahan guru bahasa Inggris tetapi belum ditanggapi,
tapi akhirnya njenengan datang sendiri, saya sangat senang “. Setelah melalui diskusi panjang dengan
teman-teman se mata pelajaran dan Kepsek di SMK akhirnya saya memutuskan untuk
mutasi total ke SMP, ajaibnya SK Mutasi saya langsung jadi dalam tiga hari!.
Tahun
ajaran baru tiba, ada perasaan aneh ketika saya harus merubah rute perjalanan
kerja saya, tiga hari pertama masih belum ada jam pelajaran karena kelas 7
dipakai kegiatan MOS, dan siswa kelas 8 dan 9 masih belajar dirumah dikarenakan
sekolah baruku ini masih masuk pagi dan siang. Tiga hari itu masih saya pakai
untuk mengunjungi teman-temanku disekolah lama. Ada semacam perasaan berat
untuk meninggalkan sekolah lama, karena memang disekolah baru ini fasilitas
sarana prasarana masih minim makulumlah sekolah baru. Hari pertama mengajar
tidaklah mudah, saya dapati kelas yang bising, anak-anak yang tidak mudah
diatur, celometan, berani melawan nasehat guru dan hal negatif lainnya, ya
seperti di film “Dangerous Mind”
itulah, digambarkan ketika guru masuk kelas siswanya cuek. Jujur saja keadaan
ini tidak saya temui selama saya mengajar di SMA/SMK. Ini pengalaman baru buat
saya mengajar anak anak usia remaja awal yang ditandai dengan tenaga fisik yang
melimpah limpah. Tidak heran jika perilaku mereka nampaknya kasar, canggung,
berandal, kurang sopan, liar dan yang lain sebagainya. Ketika masuk kelas contohnya, untuk memulai
pelajaran biasanya saya memulai dengan “Are
you ready for studying English?”.
Mereka bilang “Yes”, tapi kemudian
ngobrol lagi dengan teman-temannya. Tidak jarang juga ada yang usil dengan
mengolok nama ayahnya, sehingga yang diolok marah dan terjadilah adu pukul memukul.
Stress memang pada awalnya, tapi ternyata yang saya alami juga dialami
teman-teman guru yang sudah mengajar sebelum saya. Mereka bercerita “ Saya
waktu masuk sini berkurang bobot saya 3 kilo”. Masih belum seberapa, karena ada
seorang guru agama ditempat saya
mengajar setelah dipisui (dimaki)
siswa harus mengalami kecelakaan jatuh di jalan raya saat pulang kerja hanya
gara-gara tidak konsentrasi terlalu memikirkan kalimat umpatan dari siswanya, tragis
ya..
Sekolahku
memang diantara sekolah unik di Surabaya Utara, kenapa saya katakan unik karena
berlokasi didaerah yang padat penduduknya dan termasuk kecamatan yang paling
miskin di Surabaya dan bahkan di Jawa Timur (sumber wikipedia.org). Sebagian
peserta didik saya tinggal di rumah petak atau rumah sewa yang sempit dan
padat, bagaimana mereka akan belajar jika lingkungan tempat tinggal mereka
bising. Saya tidak berharap banyak terhadap nilai akademik peserta didik saya
karena latar belakang ini. Melihat mereka bisa santun dan menghargai guru saja
sudah cukup buat saya. Ada cerita yang menggelitik saya ketika ada program dari
dinas pendidikan kota mengadakan bersih - bersih pantai Kenjeran. Seluruh siswa
SMP se Surabaya dikerahkan pun sekolahku juga, jika anak-anak sekolah lain
memunguti sampai di tepian pantai dengan memakai sarung tangan tidak demikian
dengan siswa siswiku, mereka dengan bertelanjang tangan tanpa merasa jijik
memungut sampah yang berserakan di tepian pantai dan hasilnya mendapatkan
jumlah sampah yang terbanyak ketika ditimbang. Sebagai imbalan mereka mendapatkan
tambahan nasi bungkus dari petugas. Mereka juga dengan senangnya mandi di
sungai dekat pantai. Hal ini mungkin tidak dilakukan oleh anak-anak di sekolah
lain. Sampah dan kotoran sudah terbiasa
mereka lihat di lingkungan mereka yang tinggal di daerah kumuh dan
padat.
Sekolah
baruku ini dulunya masih satu atap dengan SD dan hampir 1/3 anak anak SMP nya
adalah siswa dari SD yang tidak perlu ada syarat masuk dari Hasil Ujian
Nasional karena sistim kuota. Bayangkan coba ada yang nilai UN nya hanya 9 atau
11 bisa masuk negeri. Bagaimana dengan
motivasi mereka belajar, sebagian anak sekolah adalah tempat untuk bermain,
bersenda gurau, meskipun masih ada juga siswa dari program regular yang
mandiri, sopan dan tekun dalam belajarnya. Mapel yang saya ajarkan adalah mapel
bahasa yang harus banyak berbicara dan membaca, mungkin hanya beberapa menit
saja mereka memperhatikan penjelasan saya dan jika mereka sudah nampak jenuh sebagian
siswa ngobrol sana sini dengan temannya, saya akan ubah strategi saya untuk
mengajak mereka mengerjakan latihan-latihan soal secara spontan di papan tulis,
tentu saja dengan iming-iming akan ada tambahan nilai, barulah kelas bisa hidup
dan tidak membuat boring. Yang paling
mereka sukai adalah ketika saya mengajarkan pada mereka media pembelajaran
online Quipper School. Pada awalnya saya mengajari mereka dengan ponsel mereka
didalam kelas, untuk registrasi dan membuat kelas belajar dan untuk selanjutnya
tugas saya kirimkan melalui online dan mereka mengerjakannya di rumah. Mereka
nampak antusias sekali dan ini cara ampuh saya untuk membangun komunikasi
efektif dengan mereka, karena sebagai seorang guru baru tugas saya hanya
mengajar saja tanpa ada tugas tambahan lain. Ya tentunya sebagai guru kita
tidak lepas untuk terus belajar seperti ungkapan “A teacher never cease to
learn” dimanapun berada. Terkadang posisi kita yang aman di tempat lama tidak
membuat kita maju justru ketika kita hijrah kita akan dapatkan
pengalaman-pengalaman baru, teman-teman guru yang baru, dan tentunya
siswa-siswi baru dengan tantangannya pula.
22
September 2015 adalah sejarah baru buat sekolahku karena sudah tidak lagi satu
atap dengan SD. Ibu Risma Walikota Surabaya meresmikan gedung sekolah baru
kami. Pemerintah kota memberi kami lokasi di depan jalan raya bersebelahan
dengan puskesmas. Harapan baru mulai tumbuh dari kami para pendidik semoga kami
bisa seperti sekolah-sekolah lainnya yang bisa independent untuk mengatur
sekolah. Ketika melakukan kegiatan tidak harus meminta ijin dulu pada keluarga
besar di SD, dan sebagainya. Tantangan kami di tempat baru adalah mendidik
karakter siswa didik untuk lebih baik lagi meskipun itu sulit karena lingkungan yang sudah mendidik mereka.
Kami pendidik tidak pernah berhenti mengingatkan mereka untuk selalu berpakaian
rapi dan sopan dalam berseragam dan tidak sering mesoh dalam setiap kali berkata, tetapi untuk hal yang satu ini
agak sulit karena sudah terbiasa dilingkungan mereka. Kata “raimu, matamu, cok”
itu sudah jadi kata-kata harian buat mereka, dan para guru disekolahku tidak
segan-segan langsung menindaklanjuti dengan cara menasehati dan sekaligus
memanggil orang tuanya. Saya salut dengan semangat juang para guru disini yang
mungkin bekerja extra tidak hanya
mengajarkan keilmuan pada anak didik tetapi yang terpenting etika, adab,
tingkah laku, karakter pada mereka. Dalam pengajaran dikelas menurut saya pesan
transfer knowledge mungkin hanya 40% saja dan selebihnya 60% adalah mendidik mereka menjadi manusia yang
baik dan berakhlak mulia.
Juli
2017 adalah tahun ketiga saya berada di sekolah ini. Awal pertama dulu masuk
saya belum mendapat tugas tambahan lain, hanya mengajar saja. Di tahun kedua
Kepala Sekolah membidik saya untuk menjadi wakilnya dibidang kurikulum. Tentu
saja ini bukan tugas ringan, banyak pekerjaan administrasi yang menuntut saya
harus OT (Over Time). Setiap hari diotak saya hanya ada deadline dan deadline,
hingga awal-awal mengawangi kurikulum tensi saya turun 70/60. Kata orang yang
menensi saya kok ibu bisa kuat ya gak semaputan.. ya, mungkin ini karunia dari
Allah saya diberi sehat. Alhamdulillah Ujian Nasional 2017 peringkat sekolah naik
dua tingkat dari tahun sebelumnya. Doa dan harapan saya tentu saja di tahun
2018 hasil peringkat Ujian Nasional sekolah saya juga bisa naik lagi.
Aktif
di banyak kegiatan IGI adalah obat rindu saya bertemu dengan teman teman guru
SMA/SMK jadi walaupun saya hijrah tetap keep
in touch dengan mereka. BRAVO IGI... SHARING AND GROWING TOGETHER
Langganan:
Postingan (Atom)

